I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia adalah negara
maritim yang membentang luas di khatulistiwa dari 94o BT-141o BT dan 6o
LU-11o LS, dengan karakteristik sebagai negara kepulauan yang terdiri
dari 17.508 pulau besar dan kecil serta memiliki garis pantai 81.000 km
yang merupakan garis pantai terpanjang ke dua di dunia setelah Kanada.
Wilayah laut Indonesia mencakup 12 mil dari garis pantai, selain itu
Indonesia memiliki wilayah yuridiksi nasional yang meliputi Zona Ekonomi
Eksklusif (ZEE) sejauh 12 mil dan landas kontingen sampai 350 mil dari
garis pantai. Dengan ditetapkannya konvensi PBB tentang hukum laut
Internasional 1982 wilayah laut yang dapat dimanfaatkan diperkirakan
dapat mencapai 5,8 juta km2 merupakan perairan ZEE (Dahuri, 2003).
Indonesia
memiliki perairan yang sangat luas dengan garis pantai sepanjang 95.181
km sehingga memiliki potensi sumberdaya, terutama sumber daya perikanan
laut yang cukup besar, baik dari kuantitas maupun dari segi diversitas
sehingga menjadi modal dalam pembangunan bangsa dan negara Indonesia.
Selain itu, Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia,
dengan jumlah pulau-pulau sekitar 17.504 pulau (Departemen Kelautan dan
Perikanan, 2003).
Laut penting artinya untuk menjadikan bumi sebagai
tempat kehidupan beranekanragam makhluk hidup, karena tergantung
sumberdaya hayati dan non hayati yang sangat dibutuhkan, terutama untuk
kelangsungan hidup organisme dan pemanfaatannya secara langsung maupun
tidak langsung. Mengingat urgensi laut dimasa sekarang ini peranan
daerah pesisir dan lautan dengan cara membudidayakan dan masyarakat
teknik pendayagunaan.
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan
potensi perikanan melimpah, namun baru sebagian kecil dimanfaatkan
dengan baik. Di samping itu, Indonesia juga mempunyai potensi perikanan
darat yang baik dikembangkan untuk budidaya, penangkapan, pengolahan
serta pemasaran. Selanjutnya dengan diakuinya Zona Ekonomi Ekslusif
Indonesia telah menambah potensi perikanan laut.
Sumatera Barat
merupakan salah satu wilayah Negara Republik yang sebagian besar
wilayahnya sekitar 329.867,61 km dengan luas lautnya 2 35.306 km
(71,33%) sedangkan daratan hanya sekitar 94.561,6 km (28,67%) .Kondisi
perairan yang sangat menjadikan sektor perikanan dapat menjadi sektor
andalan setalah sektor migas.Pada akhir tahun 2004 dicatat hasil
produksi perikanan budi daya berupa Tambak sebanyak 1.050,6 ton, kolam
15.974,9 ton, keramba 2.362,6 ton dan perikanan sawah mencapai 9,4 ton
(Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumatera Barat, 2004)
Perikanan
merupakan salah satu kegiatan manusia untuk memanfaatkan sumberdaya
hayati perairan (aquatic resources) yang berada di perairan tawar, payau
maupun laut. Pembangunan perikanan bertujuan untuk meningkatkan
perekonomian nelayan, namun diperlukan berbagai cara untuk memperbaiki
usaha perikanan yang masih tradisional agar menjadi usaha perikanan
modern. Pembangunan sumberdaya perikanan laut yang merupakan sumber
utama pemenuhan kebutuhan protein bagi masyarakat, ternyata belum di
rasakan memadai. Hal ini disebabkan karena pemanfaatan yang kurang
optimal.
Sumber daya ikan mempunyai sifat tidak terlihat (invisble),
hidup dan dapat memperbaharui dirinya (renewable), dengan demikian bila
dinamika populasinya dapat diketahui, maka manusia dapat memperoleh
hasil tangkap yang optimal dan berkelanjutan. Masalah yang ada terdapat
dalam identifikasi parameter populasi, yakni laju pertumbuhan (growth
rate) dan laju kematian (mortality rate) yang tidak mudah diperoleh
karena memerlukan data dan informasi tentang sebaran frekuensi ukuran
secara runtun waktu (time series), hal ini berakibat pada terbatasnya
aplikasi model dinamik dalam pengkajian stok sumber data ikan.
Alternatif upaya pengkajian stok yang biasa digunakan adalah model
produksi surplus, yang menggunakan data”catch” (upaya) yang selama ini
bisa dikumpulkan.( Badruddin, B. Sumiono dan B. Iskandar ps.1992).
Berdasarkan
data Statistik Perikanan yang dikeluarkan oleh Dinas Perikanan dan
Kelautan Propinsi Sumatera Barat sekitar 81% produksi perikanan Sumatera
Barat dihasilkan dari perikanan tangkap, baik dari perikanan tangkap
perairan laut (74.85%), maupun dari perikanan tangkap perairan umum
(6.15%). Sisanya sebesar 19% dihasilkan dari perikanan budidaya di
perairan Tawar. Dilihat dari jenis-jenis ikan yang dihasilkan, lebih
dari 64% (66 jenis) dihasilkan dari perikanan tangkap, dan hanya sekitar
34% (12 jenis) yang dihasilkan dari perikanan budidaya.
Potensi
sumberdaya perikanan tangkap yang dimiliki propinsi Sumatera Barat
meliputi sumberdaya ikan pelagis (besar dan kecil), ikan demersal, ikan
karang (ikan konsumsi dan ikan hias), udang penaid dan krustase lainnya
serta penyu laut. Semua sumberdaya perikanan tangkap tersebut merupakan
potensi yang sangat dihandalkan di Sumatera Barat, karena mempunyai
nilai ekonomis yang cukup tinggi dan banyak ditemukan di perairan
Sumatera Barat.
Pelabuhan Perikanan Bungus merupakan salah satu
pelabuhan yang terletak di Jl.Raya Padang-Painan KM.16 Bungus, Padang.
Pelabuhan bungus ini merupakan salah satu pelabuhan terbesar di pantai
barat Sumatera.
Pelabuhan bungus ini merupakan bagian dari
Propinsi Sumatera Barat yang memiliki laut sebagai lahan untuk
dikembangkan dalam bidang perikanan tangkap, alat tangkap yang digunakan
dipelabuhan ini bermacam-macam yaitu berupa pukat pantai, pukat cincin,
jaring insang, jaring lingkar, bubu, jaring insang tatap, bagan, serok,
long line, dan tonda.
Dari keterangan diatas pelabuhan Bungus
dijadikan sasaran untuk dilakukannya praktikum Dinamika Populasi yaitu
sesuai antara potensi umum pelabuhan tersebut dengan harapan seluruh
mahasiswa dapat mengetahui tentang studi mempelajari stok ikan yang ada
di suatu perairan khususnya di pelabuhan Bungus.
1.2 Tujuan dan Manfaat Praktikum
Tujuan melakukan praktikum dinamika populasi adalah untuk
mengetahui stok serta gambaran populasi ikan yang terdapat di perairan
pelabuhan bungus dan untuk mengetahui sifat-sifat sosial di daerah
tersebut.
Manfaat praktikum adalah untuk menambah pengetahuan
dan wawasan praktikan, untuk mendapatkan data dan informasi mengenai
perikanan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sumberdaya Perairan
Menurut
Kasry (2003) menyatakan bahwa perairan umum adalah bagian dari
permukaan bumi yang secara permanen atau berkala digenangi air, baik air
tawar, air payau, maupun air laut. Perairan tawar menyebar mulai dari
air laut surut terendah kearah daratan dan badan air tersebut terbentuk
secara alami atau buatan (waduk/ kolam).
Laut mempunyai berbagai
fungsi diantaranya adalah sebagai sarana transfortasi, usasaha budidaya,
aktivas penduduk seperti MCK, usaha penangkapan dan lain sebainya.
Selain itu perairan laut merupakan lingkungan hidup yang berfungsi
sebagai media tempat tumbuh organisme, tempat berkembang biak, untuk
pergerakan pembawa zat hara serta pelarut gas-gas dan mineral (Soesono,
1977). Sedangkan menurut Odum (1971), sungai dapat menerima bahan-bahan
asing dari luar yang menyebabkan berubahnya kualitas air, sehingga
hidro-biota yang hidup di dalamnya mengalami gangguan.
Perikanan
merupakan suatu usaha atau kegiatan manusia untuk memanfaatkan
sumberdaya hayati perairan. Ditinjau dari kegiatan pemanfaatan
sumberdaya perikanan pada umumnya dapat dibagi atas dua, yaitu : 1)
penangkapan ikan dan binatang lainnya yang dilakukan oleh para nelayan
di laut, rawa, sungai dan danau yang dikenal dengan usaha penangkapan
ikan, dan 2) pemeliharaan ikan dan binatang lainnya yang dilakukan oleh
petani ikan di kolam, sawah, perairan umum dan di tepi pantai. Usaha ini
lebih dikenal dengan usaha budidaya perikanan (Effendi, 1979).
Laut
di daerah Bungus ini sebagaimana pelabuhan laut lainnya banyak
dimanfaatkan oleh penduduk sekitar diantaranya sebagai sarana
transportasi, tempat mencari nafkah untuk kehidupan sehari-hari, dan
aktivitas perkapalan dan perikanan
Sihotang (1998) menyatakan bahwa
perairan laut umumnya dalam dan cukup keruh sehingga mencegah penetrasi
cahaya matahari masuk ke dalam laut dengan demikian bersama pengaruh
arus bisa mengatasi pertumbuhan organisme.
2.2. Perikanan
Perikanan adalah salah satu usaha manusia untuk memanfaatkan sumber
hayati perairan bagi kepentingan hidupnya baik itu sumber hayati hewan
maupun sumber hayati tumbuh-tumbuhan. Usaha ini hanya mempergunakan
taktik dan cara yang sederhana sehingga hasil yang didapat pada umumnya
untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pengelolaan perikanan di
Indonesia secara garis besar dapat di bagi dua, yaitu perikanan budidaya
dan perikanan tangkap (Syamsuddin, 1980).
Fauzi (1985) menyatakan
bahwa secara umum usaha perikanan selalu didefenisikan sebagai suatu
kegiatan ekonomi yang menyangkut : 1) kegiatan produksi yang bersifat
mengadakan atau menghasilkan ikan, baik dengan cara penangkapan maupun
budidaya, 2) kegiatan pengolahan yaitu melakukan sesuatu terhadap ikan
yang telah dihasilkan sehinggga merubah keadaan, bentuk dan nilai
ekonomisnya, dan 3) pemasaran ikan yang menyangkut segala kegiatan
memperdagangkan ikan mulai dari produsen sampai ke konsumen. Sedangkan
Arisman (1982) menekankan bahwa untuk meningkatkan hasil tangkapan perlu
adanya manajemen penangkapan yang baik. Keberhasilan usaha penangkapan
ikan ditentukan oleh keseimbangan antara manajemen usaha perikanan,
sarana penunjang keperluan penangkapan dan usaha penangkapan yang
meliputi beberapa faktor seperti unit penangkapan yang digunakan (kapal,
alat tangkap) serta mental dan keterampilan penggunaan alat tersebut.
Dirjen Perikanan (1978) menyatakan bahwa yang menjadi dasar
utama dalam memajukan dan mengembangkan perikanan adalah dengan
peningkatan pengenalan jenis- jenis ikan serta pengetahuan tentang
habitat, penyebaran dan biologinya. Salah satu usaha memajukan dan
mengembangkan perikanan adalah dengan melakukan penelitian tentang
biologi ikan.
Perikanan Sumatera Barat yang memiliki kekuatan
potensial dalam bidang perikanan dan kelautan, dimana sumberdaya
perairannya sangat luas baik untuk penangkapan ikan maupun budidaya.
Sumatera Barat daratan sesuai dengan wilayahnya terdiri dari sungai,
danau, dan rawa berpotensi untuk pengembangan budidaya, kolam, keramba,
minapadi dan longyam.
2.3. Penangkapan
Usaha penangkapan
ikan merupakan suatu usaha manusia untuk menghasilkan suatu hasil
tangkapan baik itu berupa ikan maupun organisme lainnya di suatu
perairan. Ayodhyoa, (1981) .
Faktor-faktor yang mempengaruhi
efisiensi suatu alat penangkapan ikan adalah juga merupakan faktor yang
mempengaruhi keberhasilan suatu usaha penangkapan ikan, sehingga dengan
demikian dapat dikatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi usaha
penangkapan ikan adalah : 1) Konstruksi alat penangkapan ikan yang
cocok, 2) Keterampilam nelayan dan 3) Bahan yang dipergunakan.
Berdasarkan
metode penangkapan yang ada di dunia dapat diklasifikasikan kedalam 16
golongan yakni: 1) Penangkapan dengan tanpa menggunakan alat (fishing
without gear), 2) Penangkapan dengan melukai sasaran (fishing with
wounding gear), 3) Penangkapan dengan cara membius (fishing by
stpyeing), 4) Penangkapan dengan menggunakan tali atau benang (line
fishing), 5) Penangkapan dengan perangkap (fishing with trap), 6)
.Penangkapan dengan memerangkap di suatu areal penagkapan (fishing with
areal traps, 7) Penangkapan dengan jaring berkantong dan memiliki mulut
(fishing with net bag with fixed mouth), 8) Penangkapan dengan alat yang
ditarik di dasar pantai (fishing with dragged gear), 9) Penangkapan
dengan teknik melingkari setengah pantai (seiring), 10) Penangkapan
dengan teknik melingkari gerombolan ikan (fishing with serounding nets),
11) Penangkapan dengan dengan cara alat di perairan (fishing with
drived in method), 12) Penangkapan dengan teknik mengangkat alat di
perairan (fishing with lift net), 13) Penangkapan dengan menjatuhkan
alat tangkap ke perairan ( fishing with falling gear), 14) Fishing with
gill net, 15) Fishing with tangle nets, 16) Harvesting machines
(Brandt, 1984).
Gill net merupakan alat tangkap yang banyak dipakai
nelayan di Sumatera Barat, dan alat penangkapan ini mengalami
perkembangan dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan karena gill net
disesuaikan dengan jenis ikan komersial yang tertangkap di perairan
Sumatera Barat, di tambah lagi alat penangkapan ini mudah dan relatif
murah serta dicapai nelayan secara teknis maupun ekonomis.
Alat
tersebut dalam pengoperasiannya tidak hanya untuk penangkapan di laut
tapi juga dapat digunakan di perairan umum seperti danau, sungai dan
lain- lainnya. Sadhori (1984) mengatakan rawai adalah salah satu alat
penangkapan ikan dan udang terdiri dari rangkaian dari tali–temali yang
bercabang- cabang dan pada tiap jaring ujung cabang diikat sebuah
pancing. Sedangkan pancing adalah alat tangkap yang sederhana yang
fungsinya hanya bisa melakukan operasi penangkapan kecil.
2.4. Pengolahan Ikan.
Ikan
merupakan salah satu sumber protein yang sangat dibutuhkan oleh
manusia, karena kandungan proteinnya yang tinggi dan mengandung asam
amino esensial yang diperlukan oleh tubuh, disamping itu nilai
biologisnya mencapai 90% dengan jaringan pengikat sedikit sehingga mudah
dicerna, dan harganya murah dibandingkan dengan sumber protein lainnya.
Namun, disamping kelebihan yang dimiliki oleh ikan terdapat juga
kelemahan – kelemahan diantaranya adalah ikan sangat cepat mengalami
kerusakan atau pembusukan (Adawiyah, 2006)
Ikan segar atau ikan
basah adalah ikan yang mempunyai bentuk maupun sifat yang hampir sama
dengan ikan yang masih hidup di dalam air atau belum sama sekali
mengalami usaha penanganan. Penanganan hasil perikanan adalah salah satu
usaha yang dilakukan oleh manusia baik dengan cara pengolahan dan
pengawetan untuk mempertahankan mutu ikan agar tetap dapat bertahan
sampai pada tangan konsumen. Dalam perindustrian perikanan, penanganan
(handling) ikan segar bertujuan untuk mempertahankan kesegaran ikan
dalam waktu selama mungkin. Hal ini karena kesempurnaan dari penaganan
ikan tersebut menentukan baik atau buruknya mutu ikan (Moeljanto, 1992).
Kemunduran
mutu ikan berawal dari adanya kerusakan atau pembusukan ikan. Menurut
Murniyati dan Sunarman (2000) secara umum kerusakan atau pembusukan ikan
dan hasil-hasil olahannya dapat digolongkan pada: 1)
kerusakan-kerusakan biologi, 2) kerusakan-kerusakan enzimatis, 3)
kerusakan-kerusakan fisika, dan 4) kerusakan-kerusakan kimiawi.
Ditekankan pula oleh Afrianto dan Liviawaty (1989) bahwa biasanya pada
tubuh ikan yang telah mengalami proses pembusukan akan terjadi
perubahan, seperti timbulnya bau busuk, daging menjadi kaku, sorot mata
pudar, serta adanya lender pada insang mapun tubuh bagian luar. Oleh
karena itu, perlu dilakukan usaha untuk meningkatkan daya simpan dan
daya awet produk perikanan pada pascapanen melalui proses pengolahan
maupun pengawetan.
Adapun tujuan utama proses pengolahan dan
pengawetan ikan yaitu mencegah proses pembusukan pada ikan, terutama
pada saat produksi melimpah, meningkatkan jangkauan pemasaran ikan,
melaksanakan diversifikasi pengolahan produk-produk perikanan, dan
meningkatkan pendapatan nelayan atau petani ikan, sehingga mereka
terangsang untuk melipatgandakan produksi. Proses pengolahan dan
pengawetan ikan ini dapat dilakukan dengan menggunakan suhu rendah, suhu
tinggi, dan mengurangi kadar air salah satunya dengan menggunakan panas
maupun udara panas.
Dan dijelaskan oleh keduanya pula
prinsip-prisip dalam pencegahan pembusukan, yaitu dengan mengurangi
jumlah bakteri dan enzim, membunuh atau menghambat kegiatan bakteri dan
enzim serta melindungi ikan dari pencemaran pada saat ikan masih hidup
pada habitatnya maupun pada saat pasca panen.
Adapun pengolahan hasil
perikanan yang dilakukan diantaranya adalah secara tradisional seperti
pembuatan ikan asin, ikan asap, dan hal itu dilakukan secara sederhana.
Selain secara tradisional, pada saat ini pengolahan ikan sudah banyak
mengalami kemajuan seperti pengawetan ikan.
2.5. Pemasaran Perikanan
Pemasaran
(marketing) menurut Manulang (1980) adalah segala aktivitas yang
dikerjakan orang-orang atau bagian untuk memindahkan barang dan jasa
dari tangan produsen ke tangan konsumen. Sedangkan menurut Ganda dan
Alfonsus (1992) menyatakan bahwa pemasaran dapat dikatakan sebagai
kajian terhadap aliran produk secara fisik dan ekonomik dari produsen
melalui pedagang perantara ke konsumen, pemasaran melibatkan banyak
kegiatan yang berbeda yang menambah nilai produk pada saat produk
bergerak melalui sistem pemasaran tersebut.
Hermanto (1979)
mengatakan pemasaran ikan merupakan suatu rantai yang panjang karena
berfungsinya lembaga pemasaran pasar-pasar yang bersifat monopoli, biaya
tata niaga yang tinggi, sarana dan prasarana serta informasi yang
kurang baik mengakibatkan harga yang diterima konsumen sangat tinggi.
Kemudian Satwiko (1984) menambahkan bahwa untuk menunjang kesuksesan
suatu usaha perikanan harus didukung oleh sistim pemasaran yang baik.
Untuk itu kebijaksanaan yang ditempuh adalah meningkatkan pembinaan dan
sistim pemasaran yang dapat menguntungkan para nelayan dan petani ikan
sekaligus tidak memberatkan para konsumen.
Faktor-faktor yang
mempengaruhi pemasaran antara lain : mutu, produk, jumlah produk, jauh
dekatnya sumber produk dengan konsumen, sarana angkut dari produsen dan
jumlah konsumen dari produk. Sementara itu pedagang yang membeli barang
dari pihak produsen (dalam partai besar) disebut sebagai pedagang besar
(grosir atau wholeseller) yang kemudian menjual kembali barangnya
(partai kecil) kepada pedagang eceran yang kemudian berhadapan langsung
dengan konsumen (Hidayat, 1987).
Hambatan dalam pemasaran hasil
perikanan disebabkan oleh : 1) Sifat ikan yang cepat kehilangan mutu dan
pengawetan yang kurang sempurna, 2) produksi yang dipengaruhi oleh
fluktuasi musim, 3) transportasi yang kurang memadai, 4) Jauhnya jarak
antara produsen (petani ikan) dengan pasar sehingga mengakibatkan
kedudukan nelayan atau petani ikan pada posisi yang sulit dan lemah
sehingga pedagang perantara lebih berperan dalam menentukan harga
(Eddiwan, 1983).
Menurut Malik (1998), tantangan-tantangan yang
dihadapi nelayan dan petani ikan skala kecil masih dicirikan dengan
masalah-masalah sosial ekonomi seperti tingginya biaya produksi, tidak
meratanya kepemilikan, rendahnya nilai investasi, lemahnya kelembagaan
nelayan, konflik dengan usaha perikanan padat modal dan ketidak
sempurnaan pasar.
Rendahnya produksi perikanan mempengaruhi
pendapatan rumah tangga masyarakat nelayan juga menjadi rendah. Besar
kecilnya anggota keluarga akan mempengaruhi secara langsung terhadap
pendapatan perkapita keluarga. Makin besar anggota keluarga maka makin
besar pula beban yang harus dipikul oleh kepala keluarga dalam memenuhi
kebutuhan hidup. Oleh karena itu Mubyarto (1997) mengatakan bahwa
sumberdaya perikanan di Indonesia mempunyai arti sosial yang penting
bagi masyarakat mengingat : a) Besarnya jumlah penduduk maupun nelayan,
b) Sebagian besar dari wilayahnya adalah laut ditambah perairan darat,
c) Rendahnya konsumsi protein berpengaruh pada kemampuan untuk
pertumbuhan dan kecerdasan, d) Keterbatasan dan keterlambatan
peningkatan produksi.
2.6. Permasalahan dalam Perikanan
Menurut
Syamsuddin (1980) ada beberapa faktor yang mempengaruhi perikanan
Indonesia antara lain: (1) usaha masih bersifat sambilan, (2)
terbatasnya modal memiliki, (3) kurangnya bimbingan dari pihak yang
berwenang, (4) terbatasnya pendidikan yang dimiliki oleh petani ikan.
Oleh karena pemerintah perlu memperhatikan beberapa hal diantaranya
adalah: (1) pengadaan dan penyediaan serta penyederhanaan sarana dan
prasarana usaha perikanan, (2) sarana perkreditan bagi petani, dan (3)
pendidikan, latihan dan penyuluhan dalam rangka alih teknologi bagi
petani.
Pembangunan perikanan pada dasarnya merupakan proses upaya
manusia untuk memanfaatkan sumber dayahati perikanan dan sumberdaya
perairan melalui kegiatan ikan, pembudidayaan ikan, seiring dengan
pengembangan sumberdaya manusia, pemanfaatan modal, pengembangan dan
kesejahteraan, peningkatn kerja dan berusaha serta peningkatan devisa
Negara, disertai upaya-upaya pemeliharaan dan pelestarian sumberdaya
hayati dan lingkungan secara alami (Malik, 1998).
Sensus Pertanian
(1983) dalam Indrawati (2006) membuktikan bahwa
permasalahan-permasalahan yang terdapat pada masyarakat pedesaan pada
umumnya sama di Indonesia, yakni menyangkut segi social ekonomi.
Indikator social meliputi pendidikan, kesehatan, rumah dan jumlah
tanggungan keluarga merupakan faktor yang menjadi perhatian demi
meningkatkan taraf hidup, sedangkan indikator ekonomi menyangkut
pendapatan dan pengeluaran rumah tangga.
III. METODE PRAKTIKUM
3. 1. Waktu dan Tempat
Praktikum lapangan dinamika populasi ini dilaksanakan pada hari
Sabtu-Minggu, tanggal 16-17 Mei 2009 yang bertempat di Pelabuhan
Perikanan Samudera Bungus Sumatera Barat.
3. 2. Bahan dan Alat
Peralatan yang digunakan dalam praktikum Dinamika Populasi ini adalah
lembaran kuisioner , kamera untuk mendokumentasikan gambar, alat-alat
tulis untuk mencatat data primer dan data sekunder yang didapat dari
lokasi praktikum.
3. 3. Metode Prakikum
Metode praktikum yang
digunakan adalah metode survey yaitu melakukan pengamatan langsung ke
lokasi praktek serta wawancara dengan beberapa orang masyarakat
perikanan atau nelayan yang ada di lokasi tersebut. Data yang
dikumpulkan terdiri dari: 1) data primer yaitu data hasil observasi di
lokasi dan wawancara langsung dengan para petani ikan yang mencakup,
penangkapan, pengolahan, dan penjual ikan. 2) data sekunder yaitu data
yang diperoleh dari Dinas Kelautan dan Perikanan atau instansi yang
terkait.
3.4. Prosedur Praktikum
Adapun prosedur dari praktikum
ini yaitu untuk data primer praktikan melakukan wawancara atau tanya
jawab kepada masyarakat perikanan atau para nelayan yang ada disekitar
pelabuhan perikanan samudera bungus seputar aktivitas perikanan yang
mereka lakukan. Sedangkan untuk data sekunder praktikan memperolah data
dari pegawai dinas terkait.
Pada hari pertama, semua praktikan
mengikuti seminar atau presentasi seputar kegiatan perikanan yang ada di
Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus Sumatera Barat oleh salah seorang
pegawai Dinas Kelautan dan Perikanan. Melalui seminar yang dilengkapi
dengan diskusi ini, para praktikan memperoleh data sekunder yang cukup
lengkap dan memuaskan.
Selanjutnya seluruh praktikan mulai
berinteraksi dengan para nelayan yang kapalnya sedang bersandar di
pelabuhan untuk mendapatkan data primer. Secara bergantian praktikan
menanyakan banyak hal seputar aktivitas mereka ketika melakukan
penangkapan. Mulai dari persiapan, anggaran, bahan logistik, waktu
penangkapan, lama penangkapan, alat penangkapan dan lain-lain. Pada
malamnya praktikan disuruh ke dermaga untuk melihat bongkar muat hasil
tangkapan.
Pada hari kedua kembali praktikan melengkapi data primer
dengan mewawancarai pedagang pengumpul, pedagang pengecer di Pasar Gaung
Teluk Bayur . Tetapi pada saat tiba di lokasi pasar, ikan yang dijual
sedikit karena ikan hasil tangkapan sedikit akibat terang bulan.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Data Primer
Pelabuhan
Perikanan Samudera Bungus ini merupakan salah satu pelabuhan di pantai
barat Sumatera Barat dan terletak di jalan lintas Padang-Painan Km 16
Bungus Padang. Berada pada 16 km sebelah selatan Padang atau 1,5 jam
perjalanan. Lokasi pantai ini mudah dicapai dengan transportasi darat.
Bentuk pantainya menyerupai bulan sabit. Air lautnya hangat dan aman
untuk berenang.
4.1.1. Data primer untuk kegiatan penangkapan
yang diajukan kepada nelayan tangkap di sekitar Pelabuhan dan Perairan
Pantai Bungus.
a. Identitas Responden
Nama : Rian
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama dan Etnis : Islam dan Minang
Umur : 21 tahun
Alamat : Batang kapas, pesisir, Padang
Tahun mulai bermukim : 2000
Pendidikan : SMP
Mata pencaharian pokok : Nelayan
Mata pencaharian sampingan : Mengojek
Anggota Keluarga : 5 orang
Rian
menjadi Nelayan mulai tahun 2000, pekerjaan ini tidak turun temurun
dari keluarga tetapi dari diri sendiri. Jumlah tanggungannya 2 orang.
Melaut ikut sama orang lain. Pekerjaan sebelum menjadi nelayan adalah
pengangsur. Pekerjaan sampingan yaitu mengojek.
b. Alat Penangkapan
Alat
tangkap yang digunakan Saudara Rian untuk menangkap ikan yaitu pancing,
wareng, dan kapal. Jenis ikan yang tertangkap pada saat melakukan
penangkapan yaitu ikan tuna, ikan tete, ikan sala, ikan sisik, ikan
nyarang dan ikan bolo. Hasil tangkapan dijual ke TPI, Tauke, Pedagang
dan Gauang. Alat tangkap yang digunakan 2 unit. Ada milik sendiri yang
di beli di pasar secara tunai dan ada yang bukan milik sendiri dari
induk samang/tauke.
Modal dalam operasi penangkapan merupakan milik
sendiri dan biaya dalam satu kali operasi sebesar Rp, 15.000.000. Waktu
operasi pada malam hari. Dalam seminggu melakukan penangkapan sebanyak 3
kali, dan daerah penangkapan di tengah laut. Musim penangkapan tidak
ada di daerah ini. Perahu yang digunakan terbuat dari kayu, dan hasil
tangkapan sekali menangkap mencapai 15 ton. Kesulitan yang sering
dialami saat menangkap ikan adalah badai dan ombak besar. Cara mengatasi
kesulitan tersebut pergi ke tepi. Para nelayan tidak mendapat bantuan
dari pemerintah setempat. Pendapatan rata-rata saudara Rian adalah Rp,
1.000.000 dari sektor perikanan dan Rp, 600.000 dari sektor lainnya.
Pengeluaran untuk kebutuhan keluarga dalam sebulan Rp, 500.000. Saudara
Rian maupun keluarganya tidak ada yang ikut menjadi anggota koperasi.
4.2.2.
Data primer untuk kegiatan pemasaran yang diajukan kepada pedagang ikan
disekitar pelabuhan dan perairan Pantai Bungus serta Pasar gauang Teluk
Bayur.
a. Identitas Responden
Nama : Candra
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama dan Etnis : Islam
Umur : 39 tahun
Alamat : Bungus
Tahun mulai bermukim : 2002
Pendidikan : SMA
Mata pencaharian pokok : Nelayan
Mata pencaharian sampingan :
Anggota Keluarga : 7 orang
1.Pedagang Pengumpul
Ikan
yang dijual dibeli dari ikan hasil tangkapan nelayan. Ikan yang di beli
kemudian dijual langsung di pasar kepada konsumen yang datang membeli
dengan harga Rp 5000/kg karena tidak mempunyai pelanggan tetap. Ikan
yang dijual berupa ikan segar. Usaha saudara Candra ini sudah
berlangsung 4 tahun dengan modal yang diperoleh dari tauke. Ikan yang
dibeli dalam satu kali penjualan sebanyak 60 kg dengan modal awal Rp,
400.000. Keuntungan yang diperoleh dalam satu kali penjualan adalah Rp,
100.000. Permasalahan yang sering dihadapi dalam pemasaran ikan adalah
kondisi ikan dan cara yang digunakan untuk mengatasinya baru dengan
menggunakan es.
2.Pedagang pengecer
Ikan yang dijual
dibeli dari nelayan. Kemudian ikan tersebut di jual di TPI, Pasar, dan
komplek rumah. Modal merupakn modal sendiri. Jumlah ikan yang dijual
perhari 35 kg dengan sistem penjualan tunai. Jenis ikan yang dijual
yaitu ikan tongkol, ikan maco dan ikan taneman. Ikan yang dijual
merupakan ikan segar, ikan asin dan ikan kering. Bentuk ikan yang paling
banyak diminati konsumen adalah ikan segar. Harga ikan dibeli sebesar
Rp,10.000/kg untuk ikan segar, Rp, 10.000/kg ikan asin dan Rp, 13.000/kg
untuk ikan kering. Dan ikan tersebut dijual kepada konsumen dengan
harga Rp, 15.000/kg ikan segar, Rp, 13.000/kg ikan asin dan Rp,
25.000/kg untuk ikan kering. Permasalahan yang dihadapi adalah pada saat
musim hujan sehingga tidak jualan.
3.Jenis dan Teknis pengolahan
Jenis ikan yang diolah adalah ikan tongkol yang diperoleh dari hasi
tangkapan sendiri. Pengolahannya dengan cara Viber menggunakan teknologi
mesin. Ikan yang diperlukan dalam sekali pengolahan adalah 1000 kg
dengan hasil setelah diolah menjadi 800 kg. Ikan hasil olahan ini dijual
sebesar Rp, 3.000.000. Konsumen biasanya langsung datang ke pabrik
untuk membeli ikan olahan ini.
4.Pemasaran
Hubungan dengan
pedagang pengumpul dan pembeli tergantung. Ikan segar maupun olahan
dijual di pasar, TPI, dan komplek rumah. Pembelinya berasal dari
Bungus, Painan dan Solok. Pembayaran dilakukan secara tunai. Bila ikan
tidak terjual habis maka selebihnya di eskan dan kalau suda busuk
dibuang.
Data Sekunder
Diperoleh dari Dinas Perikanan dan Kelautan pelabuhan perikanan samudera bungus adapun data-datanya sebagai berikut :
Tabel 1. Jenis produksi ikan yang dominan di Sumatera Barat
No Jenis ikan Ton
1 Kembung 10.159
2 Teri 7,766
3 Tongkol 4,478
4 Japuh 3,072
5 Cakalang 2,690
6. Tuna 1,537
7 Layur 869
8. Tenggiri 823
9 Lembong 673
10 Lobster 426
Lain-lain, Udang, Kepiting, Cruscea 53,252
Tabel 2. Potensi, produksi dan rata-rata pemanfaatan ikan tuna diluar ZEE wilayah Sumatera
No Ikan Potensi (ton/tahun) Produksi (ton) Pemanfaatan rata-rata (%)
1 Tuna ekor kuning 23.000 4.800 20
2 Tuna mata besar 19.330 4.000 20,7
3 Tongkol bojo 65.000
10.000
15,4
4 Situhuk 17.300
3.300 19,1
Total 124.630 22.100 18,8
Tabel 3. Data aktivitas PPS Bungus Tahun 2006
No Bulan Jumlah kunjungan kapal Produksi ikan tuna ekspor (kg) Nilai produksi Ikan Tuna Ekspor (Rp)
1 Januari 208 - -
2 Februari 393 7.200 93.6000
3 Maret 225 32.339 598.271.500
4 April 169 97.990 4.409.550.000
5 Mei 322 110.780 7.200.700.000
6 Juni 474 172.900 16.425.500.000
7 Juli 559 88.300 8.388.500.000
8 Agustus 972 74.840 7.858.200.000
9 September 1.400 46.390 4.407.050.000
10 Oktober 1.583 64.922 6.167.590.000
11 November 1.505 50.392 4.283.320.000
12 Desember 1.252 969 92.055.000
Jumlah 9.172 747.022 59.924.336.500
Tabel 4. Jumlah Kunjungan Kapal di PPS Bungus Tahun 2007
No Bulan GT Jumlah
<10 11 – 30 31 – 50 50 – 100 101 - 200
1 Januari 332 394 93 212 172 1.203
2 Februari 189 174 77 130 118 688
3 Maret 237 21 54 68 128 506
4 April 226 23 14 128 110 501
5 Mei 267 27 33 182 107 616
6 Juni 420 27 29 80 160 716
7 Juli 420 27 33 69 90 639
8 Agustus 372 47 31 82 118 650
9 September 475 50 22 92 122 761
10 oktober 315 31 31 89 152 618
11 Nopember 200 142 28 105 125 600
12 Desember 341 62 31 84 122 640
Total 3.794 1.025 476 1.321 1.522 8.138
Tabel 5. Volume dan Nilai Produksi Ikan di PPS Bungus Tahun 2007
No Jenis ikan Volume (kg) Nilai produksi
1 Big eye 500 6.000.000
2 Yellow fin 147.770 1.993.265.000
3 Cakalang 317.710 2.114.968.500
4 Kembung 20.775 89.188.500
5 Tongkol 258.960 1.694.884.500
6 Layaran 580 4.000.000
7 Lemadang 650 3.575.000
8 Selar kuning 5.810 50.811.250
9 Tenggiri 200 3.400.000
10 Banyar 5.020 37.612.500
11 Lemuru 240 1.260.000
12 Slengseng 12.740 64.890.000
13 Alu-alu 30 200.000
14 Layur 21.350 97.925.000
15 Kerapu 4.113 54.110.000
16 Teripang 400 25.400.000
17 Lobster 230 34.925.000
Total 797.078 6.276.415.250
Tabel 6. Jenis Alat tangkap Di Pelabuan Perikanan Bungus
No. Jenis alat Jlh alt Hasil/ ton Rata hsl alat Ratio hsl/hr Bagan Effort Covertion
1 Bagan 50 6.0 0.1200 1.000 50
2 Purseine 20 4.0 0.2000 1.667 33
3 Tonda 1200 0.5 0.0004 0.003 4
4 Jaring 2000 9.0 0.0045 0.038 75
5 Long Line 4000 40.0 0.0100 0.083 333
6 Bubu 180 20.0 0.1111 0.926 167
Total 7450 663
Konversi alat kebagan = Total Jumlah Alat : Total E Convertion
= 7450 : 663
= 11,245
Tabel 7. Hasil tangkapan dikali dengan konversi alat ke bagan
No. Jenis alat Hasil / ton Konversi alat ke Bagan Hsl tangkapan dari Konversi alt ke Bagan (ton/tahun)
1 Bagan 6.0 11.245 67.472
2 Purseine 4.0 11.245 44.981
3 Tonda 0.5 11.245 5.623
4 Jaring 9.0 11.245 101.208
5 Long Line 40.0 11.245 449.811
6 Bubu 20.0 11.245 224.906
Total 79.5 894
Dari table diatas dapat diketahui bahwa total kelimpahan ikan yang
terdapat di Pelabuhan Perikanan Samudra bungus pada tahun 2007 ± 894
ton.
4.2. Pembahasan
Pemakaian dermaga di PPS Bungus sangat
diminati oleh kapal-kapal yang akna berlabuh untuk memperbaiki kapal
yang rusak pada saat berlayar. Seperti halnya pada demaga bunker dimana
fungsinya adalah sebagai fasilitas untuk tempat memperbaiki kapal-kapal
yang rusak. Dari data yang diperoleh pada bulan januari selalu ada
banyak kapal yang berlabuh di PPS Bungus sekitar 1.203 dan jeins kapal
yang banyak berlabuh yaitu antara 11-30 GT.
Di PPS Bungus memiliki
produksi iakn tuna yang besar, beberapa jenis ikan tuna yang diperoleh
Tuna Ekor Kuning, Tuna Mata Besar, Tongkol Bojo, Situhuk. Dari berbagai
macam jenis ikan tuna yang di produksi salah satunya yang terbesar jenis
ikan tuna ekor kuning mencapai 23.000 ton/tahun. Tempat perdagangan
yang banyak dilakukan pada daerah jepang. Jepang pernah menolak
pemasaran ikan tuna dari Indonesia, karena jenis ikan tuna pada saat itu
dagingnya mengandung bahan merkuri dan pencemar yang lain. Itu terjadi
karena tingginya bahan pencemar diperairan laut sehaingga salinitas itu
sendiri tidak mampu untuk mendaur ulang.
4.2.1. Sumberdaya Perikanan
Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan nelayan di pelabuhan
perikanan samudera Bungus, pekerjaan nelayan merupakan pekerjaan utama
untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari. Meski banyak juga diantara
nelayan yang masih lajang.
Waktu nelayan melakukan penangkapan
tergantung kepada jenis kapal atau alat tangkapnya. Ada yang hanya 3
hari, 4 hari bahkan seminggu lebih. Tetapi ada juga yang menangkap ikan
pada pagi dan sore hari.
4.2.2. Alat Tangkap
Hal-hal yang harus
diperhatikan dalam melakukan usaha penangkapan adalah pemilihan alat
tangkap, pemakaian metode penangkapan spesies yang ditangkap, keahlian
nelayan, kedalam perairan dan karakteristik perairan (Sainbury, 1986).
Sedangkan masing-masing alat tangkap memiliki kelebihan dan kekurangan.
Dalam penerapannya diperlukan pertimbangan dari berbagai segi, antara
lain aspek teknik penangkapan ikan itu sendiri serta harus dapat
dipertanggungjawabkan secara teknis, social ekonomi maupun ekologi.
Di
Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus jenis alat tangkap yang digunakan
nelayan adalah Dengan alat tangkap dan armada yang beroperasi terdiri
dari bagan purseine, tonda, jaring insang, long line, bubu, pukat
cincin, pukat pantai.
A. Bagan
Bagan Menurut Ayodhyoa
(1978) bagan adalah alat tangkap yang berbentuk empat persegi panjang,
mempunyai mata jaring yang sama ukurannya, lebar lebih pendek
dibandingkan dengan panjangnya, dengan perkataan lain, jumlah mesh dept
lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mesh length pada arah
panjang jaring.
Bahan yang yang digunakan adalah bahan transparan
berupa nilon (monofilamen) dan pinggirannya menggunakan tali yang besar
(tali ris). Jaring ini dipasang pada permukaan beragam dengan pancang
atau tiang yang sengaja dipasang. Alat ini dioperasikan pada pagi atau
sore hari.
B. Purse Seine
Nelayan bungus menggunakan Purseini
sebagai alat untuk menangkap ikan, selain modalnya sedikit cara
pengoperasiannya juga mudah.
Jenis pancing yang biasa digunakan
adalah pancing purseini dengan ukuran mata pancingnya adalah 2 inc umpan
yang digunalan adalah lipas batang dalam satu rawai itu terdapat 40
buah mata pancing.
Biasanya setiap nelayan memiliki lebih dari satu
pancing rawai dan dipasang pada pagi hari dan dibiarkan baru kemudian
diangkart pada pagi harinya lagi. Biasanya hasil tangkapan tidak terlalu
banyak cukup untuk dikomsumsi keluarga saja tapi semua pancing rawai
yang diletakkan tidak pernah penuh mengait ikan.
C. Tonda
Tonda
adalah jenis alat penangkapan ikan yang terdiri dari seutas tali utama
berpancing umpan buatan atau seutas tali utama tanpa jarak dan 2 – 3
tali cabang berpancing umpan buatan.
Pengoperasiaannya dengan
menggunakan kapal motor yang dilengkapi sepasang batang kayu atau bamboo
(out riggers/booms) yang dipasang pada kedua sisi lambung kapal. Pada
out riggers dan belakang/buritan kapal diikatkan beberapa pancing tonda,
selanjutnya ditarik di belakang kapal. Agarpancing tetap melayang
(tidak terapung) di dalam perairan, maka ujung ikatan tali cabang pada
setiap tali utama dilengkapi dengan papan meluncur.
D. Jaring
Jaring adalah salah satu alat tangakap fishing with traps yang berbentuk
empat panjang bujur sangkar dimana disalah satu sisinya dibuat
sedemikian rupa sehingga ikan yang sudah masuk tidak dapat keluar lagi
(Von Brandt, 1984).
E. Pukat Pantai
Pukat pantai adalah jenis
pukat pantai yang terbukanya mulut jaring tanpa adanya otter board atau
bentangan bingkai. Operasi penangkapannya ditarik ke pantai/darat
melalui kedua bagian sayapnya dan kedua utas tali selambar yang
panjang..
Pengoperasiaannya dengan cara menurunkan pukat pantai ke
perairan laut dengan menggunakan perahu atau kapal, kemudian menarik
kedua tali selambar dan dan bagian sayap jarring kea rah darat/pantai
yang dilakukan oleh beberapa orang penarik.
F. Bubu
Bubu
adalah alat penangkap ikan yang terbuat dari jarring atau bamboo sebagai
perangkap ikan. Mempunyai pintu masuk yang berjumlah satu atau dua.
Bubu mempunyai bermacam-macam bentuk. Alat penangkapan ikan ini dapat
diangkat dan dipindahkan dengan mudah ke daerah-daerah penangkapan
lainnya tanpa menggunakan perahu/kapal sebagai alat pengangkut.
Pemasangannya di dasar atau di dekat permukaan perairan selama jangka
waktu tertentu. Sering kali di dalam bubu dipasang umpan atau
manik-manik dan di luarnya dipasang daun kelapa sebagai alat penarik
ikan.
G. Long Line
Long line adalah alat penangkapan ikan berupa
serangkaian tali yang terdiri dari tali utama (main line) terbuat dari
polyester atau kuralon, yang pada setiap jarak tertentu terpasang tali
cabang (branch line) yang panjangnya 20 – 25 meter terbuat dari bahan
yang sama dengan tali utama tetapi dengan diameter lebih kecil. Yang
ujungnya diikatkan pancing berumpan ikan segar.
4.2.3. Pemasaran
Pemasaran
yang dilakukan di Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus adalah pemasaran
ikan segar dari hasil tangkapan. Khusus ikan tuna dan ikan-ikan besar
diolah dulu pada dua perusahaan besar yang ada di pelabuhan Bungus
hingga dipasarkan keluar kota maupun diekspor. Sedangkan ikan lain ada
yang langsung dijual di pasar terdekat.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Pelabuhan
Perikanan Samudera Bungus merupakan pelabuhan terbesar yang ada di
Sumatera Barat. Kegiatan perikanan di pelabuhan ini meliputi usaha
penangkapan, pengolahan ikan, perbengkelan kapal, jasa docking dan
penjualan air bersih, penyaluran bahan bakar minyak, pabrik es dan
sebagainya.
Jenis ikan yang tertangkap diantaranya ikan ikan tuna
yellow fin & big eye, cakalang, kembung, tongkol, layaran, bawal,
sunglir, lemadang, selar kuning, kerapu, teripang, dan lobster. Dengan
alat tangkap dan armada yang beroperasi terdiri dari bagan purseine,
tonda, jaring insang, long line, bubu, pukat cincin.
5.2. Saran
Melalui
praktikum yang telah dilakukan diketahui bahwa perlunya penyesuaian
harga jual ikan tuna antara harga jual ikan tuna di pelabuhan Bungus
dengan pelabuhan yang ada diluar Bungus, karena harga jual yang sangat
murah. Selain itu perlu ditekankan kepada praktikan agar lebih aktif
melakukan wawancara kepada para nelayan agar informasi yang dibutuhkan
tentang gambaran stok ikan di perairan Bungus.
DAFTAR PUSTAKA
Adriman et al. 2005. Penuntun Praktikum Ekologi Perairan. Pekanbaru. 30 hal (tdk diterbitkan)
Afrianto, E dan Liviawaty, E. 2000. Pengawetan dan Pengolahan Ikan. Kanisius. Yogyakarta. 124 hal
Arisman. 1982. Perikanan Laut. Penerbit Angkasa Bandung. Bandung 98 halaman.
Ayodhyoa., 1981. Metode Penangkapan Ikan. Penerbit Yayasan Dewi Sri. Bogor. 97 hal.
Badruddin,
B. Sumiono dan B. Iskandar ps.1992. Dugaan prospek pemanfaatan sumber
daya ikan demersal di perairan Nusa Tenggara Barat. Jrnn. Pen. Perik.
Laut. No. 66 :29-36
Boyd, C.E. and F. Litchoper. 1982. Water
Quality Managemen in Pond Fish Culture. Reasarch and Development Series
no.22. International Center for Aquaculture Experiment. Auburn
Universiti. Auburn. 23-26 hal.
Brandt, A, Vont. 1984. Fishing methode of the World 3nd. Action fishing new book, ltd. London. 418 hal.
Dahuri,
R., 2003. Keanekaragaman Hayati Laut: Aset Pembangunan Berkelajutan
Indonesia. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 412 hal.
Dinas Perikanan dan Kelautan, 2004. Pokok-pokok Pengembangan Perikanan Pekanbaru. 8 halaman.
Dirjen
Perikanan., 1978. Pedoman Pengenalan Sumber Perikanan Laut, bagian I.
Jenis-jenis Ikan Ekonomis Penting. Departemen Pertanian. Jakarta. 170
hal.
Dirjen Perikanan Tangkap Departemen Perikanan dan Kelautan. 2005. Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan.
Eddiwan.
1983. Peranan Koperasi dalam pemasaran Hasil dan Pengembangan Kelurahan
Nelayan. Prosiding Workshop Sosial Ekonomi Perikanan Indonesia. Pusat
Perkembangan Pertanian. Jakarta. Hal 145-150.
Fauzi. 1985.
Pendekatan Lintas Sektoral Untuk Pencegahan Masalah Perikanan Pada
symposium HUT XXI FAPERI Dies Natalis XXIII UNRI dan Hari Sumpah Pemuda
LVII halaman 1-7 (tidak diterbitkan).
Ganda, R. S. dan S. Alfonsus. 1992. Manajemen Agribisnis. Penerbit Erlangga. 278 halaman
Hanafsiah, A.M. saefudin. 1983. Tata Niaga Hasil Perikanan, Universitas Indonesia. Jakarta, 208 hal.
Hermanto,
S., 1979. Pengembangan Sisitem Pemasaran Untuk Menekan Peningkatan
Harga Ikan Sampai ke Tingkat Konsumen. Dalam Pusat Agro ekonomi.
Departemen Pertanian, Jakarta. Hal 181 – 184.
Hidayat, 1987.
Peranan dan Profil Serta Prospek Perdagangan Eceran (Formal dan
Informal) dalam Pembangunan, hal. 3-18. Dalam Prisma No. 7 tahun XVI
LP3ES.
Kasry.A., 2003. Manajemen Sumberdaya Perairan dalam
Pengantar Perikanan dan Ilmu Kelautan. Feliatra dan I. Syofyan. Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Universitas Raiau Press.
75 hal.
Malik, B.A., 1998. Prospek Pembangunan Perikanan di
Daerah Riau, hal 158 – 185. dalam Feliatra (editor) Strategi Pembangunan
Perikanan dan Kelautan Nasional Dalam Meningkatkan Devisa Negara.
Universitar Riau Press, Pekanbaru
Manulang, 1980. Pengantar Ekonomi Perusahaan. Ghalia Indonesia, Jakarta. 221 hal.
Murniyati, A. S dan Sunarman., 2000. Pendinginan, Pengawetan dan Pembekuan. Penerbit Kanisius, yogyakarta. 220 hal.
Moeljanto., 1992. Pengawetan dan Pengolahan Hasil Perikanan. Penerbit Swadaya, Jakarta. 259 hal.
Mubyarto. 1997. Nelayan dan Kemiskinan. Studi Ekonomi di Dua Kelurahan Pantai. C.V. Rajawali. Jakarta. 195 hal.
Nurdin , S. 1998. Kumpulan Bahan-bahan Kuliah Manejemen Sumberdaya Perairan. Pekanbaru. 56 hal (tdk diterbitkan)
Nurdin.
S dan M. ahmad., 1982. Jarring Insang di Riau. Diktat Kuliah Tekhnologi
Penangkapan Ikan. Seri I. Fakultas Perikanan. Pekenbaru. 43 hal (tidak
diterbitkan).
Sadhori. N., 1984. Teknik Penangkapan Ikan. Angkasa. Bandung. 488 hal.
Satwiko.,
1984. Prospek Pembangunan Indonesia. Makalah pada Symposium Perikanan
Indonesia Tahun 2000. Menciptakan Perikanan Tangguh. Fakultas Perikanan
Universitas Riau Pekanbaru. 31 hal.
Siagian, M. 2004. Diktat Ekologi Perairan. Pekanbaru. 77 hal (tdk diterbitkan)
Sitepoe. 1997. Air Untuk Kehidupan. Jakarta : PT. Grasindo
Swingle.
A. S. 1968. Standardization of Chemical and Analisys for Water and Pond
Muds. FAO World a Symposium on Warm Water Pond Fish Culture. Fishery
Report 44 (4) 397-421 pp.
Syamsuddin, A. R., 1980. Pengantar Perikanan. Karya Nusantara. Jakarta.58 halaman.
Wardoyo,
S. T. 1981. Kriteria Kualitas Air untuk Keperluan Pertanian dan
Perikanan. Trainning Analisa Dampak lingkungan PDLH-UNDP-PUSDI-PSL dan
IPB Bogor 40 hal (tidak diterbitkan).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar